Kalau jawaban kalian adalah pohon, ups maaf masih salah. Pohon adalah salah satu penyumbang oksigen, akan tetapi hanya sebesar 20% untuk bumi. Pohon berguna untuk mitigasi (mengurangi) karbondioksida yang ada di bumi.
Jadi untuk mengurangi dampak pemanasan global, tanamlah pohon agar CO2 nya dapat dimanfaatkan oleh pohon. Karena nilai wajar dari CO2 adalah 0,1% di bumi ini, tetapi tahun 2010 ini kadar CO2 di atmosfer bumi sudah mencapai 0,3%.
Jadi jawaban yang benar adalah Plankton, khususnya adalah Fitoplankton. Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar.
Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.
Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya kecil saja. Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang atau angin yang menghanyutkannya.
Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus hidup.
Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif dijalankan di kawasan itu.
Selain sisa-sisa hewan, plankton juga tercipta dari tumbuhan. Jika dilihat menggunakan mikroskop, unsur tumbuhan alga dapat dilihat pada plankton. Beberapa makhluk laut yang memakan plankton adalah seperti batu karang, kerang, dan ikan paus.
Plankton adalah organisme yang menyumbang 80% kebutuhan oksigen yang ada di bumi ini.
Dengan kemampuannya berespisari menghasilkan gelembung-gelembung oksigen yang terdapat di dalam laut, oksigen tersebut terlepas ke udara dan menjadi gas yang bisa kita nikmati sekarang.
Para ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan plankton secara tidak langsung dapat membuat awan yang dapat menahan sebagian sinar matahari yang merugikan. Sehingga plankton bisa membantu memperlambat proses pemanasan bumi.
Dierdre Toole dari Institusi Oceanografi Woods Hole (WHOI) dan David Siegel dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB) adalah dua peneliti itu.
Penelitian yang dibiayai oleh NASA tersebut mengungkapkan ketika matahari menyinari lautan, lapisan atas laut (sekitar 25 meter dari permukaan laut) memanas, dan menyebabkan perbedaan suhu yang cukup tinggi dengan lapisan laut di bawahnya. Lapisan atas dan bawah tersebut terpisah dan tidak saling tercampur.
Plankton hidup di lapisan atas, tapi nutrisi yang diperlukan oleh plankton terdapat lebih banyak di lapisan bawah laut. Karenanya, plankton mengalami malnutrisi.
Akibat kondisi malnutrisi ditambah dengan suhu air yang panas, plankton mengalami stress sehingga lebih rentan terhadap sinar ultraviolet yang dapat merusaknya.
Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka.
Zat ini jika terurai ke air akan menjadi zat dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara.
Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan membentuk awan.
Jadi, secara tidak langsung, plankton membantu menciptakan awan. Awan yang terbentuk menyebabkan semakin sedikit sinar ultraviolet yang mencapai permukaan laut, sehingga plankton pun terbebas dari gangguan sinar ultraviolet.
Proses ini sebenarnya telah beberapa tahun dipelajari di laboratorium oleh para ilmuwan, namun proses alamiahnya baru kali ini dapat dipelajari.
Awan yang disebabkan oleh plankton ini, dipercaya dapat memperlambat proses pemanasan bumi, serta memiliki efek besar tehadap iklim bumi. Namun, untuk membuktikan hal tersebut, masih harus dilakukan penelitian lanjutan yang seksama.
Penelitian yang dilakukan di Laut Sargasso, lepas pantai Bermuda ini juga menemukan secara mengejutkan bahwa partikel DMS ini dapat terurai dengan sendirinya di udara setelah tiga sampai lima hari saja. Padahal, karbondioksida di udara, dapat bertahan hingga berpuluh-puluh tahun.
Karena penguraian alamiah DMS sangat cepat, DMS tidak akan menimbulkan efek rumah kaca, tidak seperti karbondioksida.
Jadi bersyukurlah karena mereka kita masih bisa menghirup udara dengan bebas untuk kelangausngan hidup. Lalu yang terpenting dan terutama, bersyukurlah karena Tuhan mu telah menciptakan mereka.
(sumber : http://bilogizma.blogspot.com/2011/10/siapakah-penyumbang-oksigen-terbesar_12.html )
Showing posts with label Penelitian. Show all posts
Showing posts with label Penelitian. Show all posts
Thursday, November 8, 2012
Friday, October 12, 2012
[Teknologi Terapan] Mikroalga: Energi Terbarukan Generasi Ketiga
Indonesia, dan bahkan negara maju di semua belahan dunia, saat ini sedang mengalami krisis energi, pangan, dan sanitasi. lebih jauh lagi isu global warming juga menjadi momok menakutkan dalam kehidupan kita.
Disadari atau tidak, beberapa peneliti meyakini bahwa dengan teknologi mikroalga, ketiga sumber bencana massal itu bakal dipecahkan oleh sel kecil yang disebut mikroalga (dalam bahasa kita disebut mikro-lumut).
Mikroalga memiliki potensi sebagai bahan baku penghasil energi. Tidak dipungkiri bahwa pertumbuhan mikroalga lebih cepat dari beberapa tumbuhan lain yang dapat menghasilkan minyak, seperti jagung, kedelai, kelapa sawit, dan bunga matahari. Selain itu mikroalga tidak membutuhkan banyak lahan dan air untuk pertumubuhan. Lebih jauh lagi, mikroalga tidak menghasilkan limbah yang berdampak buruk bagi lingkungan sehingga tidak mempengaruhi kualitas air yang telah digunakan sebagai pertumbuhan.
Kenapa disebut generasi ketiga?
Mikroalga tidak menjamah dalam aspek pangan, meski di antara beberapa spesiesnya dapat digunakan untuk pangan. Berbeda dengan jagung, palm oil, coconut oil, dan beberapa tumbuhan tingkat tinggi lain yang masih dibutuhkan oleh kelangsungan hidup manusia, mikroalga tidak masuk dalam aspek pangan. Dan digadang gadang, mikroalga dapat tumbuh lebih masiv dari tumbuhan tingkat tinggi, lebih membutuhkan sedikit air, dan menyerap karbon dioksida dalam jumlah yang cukup tinggi. Mikroalga juga dapat tumbuh di hampir semua tempat, bahkan dapat memanfaatkan limbah cair industri, seperti Agroindustri untuk kelangsungan hidupnya.
Salah satu contoh proyek mikroalga dalam limbah kelapa sawit PTPN VII (TS pernah ikut dlm proyek), keuntungannya di antaranya: dapat menurunkan kadar COD BOD (senyawa yg berbahaya utk lingkungan) yang terdapat dalam limbah, dapat menyerap kadar tanin dalam limbah, dan menyerap senyawa nitrogen, dan beberapa senyawa lain dalam limbah, menkonversinya menjadi biomassa yang bermanfaat. Itulah kenapa mikroalga disebut sebagai small amazing factory, pertama dapat digunakan sebagai stok pangan (salah satunya spirulina berprotein lebih dari 50%), stok energi (salah satunya chlorella yang memiliki kadar lipid 30%), dan dapat digunakan untuk mentreatment air limbah sehingga air buangan akan lebih aman direlease ke lingkungan.
Biomass dari mikroalga dapat diolah menjadi beberapa turunan produk bioenergi seperti biodiesel (cara transesterifikasi), bioethanol (cara fermentasi), biobuthanol, maupun SVO (Straight Vegetable Oil) di mana minyak yang dihasilkan dari mikroalga langsung digunakan untuk mesin diesel yang telah dimodifikasi.
Dewasa ini sudah mulai banyak perusahaan berbasis mikroalga yang bermunculan di beberapa negara maju. Salah satu perusahaan berbasis mikroalga adalah Algenol, perusahaan menghasil biethanol dari mikroalga yang baru baru ini bekerja sama dengan Dow Chemical untuk membuat proyek petroleum dari mikroalga di Texas Amerika. Perusahaan lain yang juga terkenal akan mikroalga berbasis energi lainnya adalah Solazyme, yang menghebohkan dunia tentang bahan bakar jet nya yang dibuat dari biomassa mikroalga.
Tantangan Terbesar
Mikroalga untuk energi memang meyakinkan jika digunakan sebagai bahan baku dalam industri energi di masa depan. Namun tidak dipungkiri juga bahwa teknologi ini masih merupakan tahap awal di era milenium ini. Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan produksi mikroalga untuk energi ada pada dowenstream processing, pada bagian pengolahan akhir, yakni mengubah biomassa menjadi energi seperti biodiesel, maupun bioethanol.
Biaya terbesar dalam produksi justru terletak dalam proses pemanenan mikroalga, karena hampir 90% mikroalga mengandung air sehingga membutuhkan teknologi yang cukup mahal dalam memisahkan air dan mikroalga yang sebagian besar ukurannya dalam kisaran 5-10 mikron. Solazyme juga mengamini opini ini. Dalam website mereka, Solazyme masih kesusahan dalam memproses pemisahan mikroalga dari mediumnya agar biaya operasi menjadi lebih rendah, serendah mungkin.
Bagaimana Perkembangan di Indonesia?
Indonesia masih terus mengembangkan teknologi mikroalga melalui kementrian riset & teknologi, kementrian ESDM, LIPI, maupun universitas di Indonesia. TS pernah menghadiri simposium biomass untuk energi di LIPI, dan sempat menanyakan perkembangan teknologi mikroalga ke salah satu petingginya, dan menjawab sedang dalam development pemilihan spesies2 mikroalga berbasis energi yang berpotensi dikembangkan di Indonesia.
-Dari pihak universitas, salah satunya adalah UNDIP Semarang yang gencar meneliti mikroalga berbasis lipid yang dimulai awal tahun kemarin lewat pusat riset C-BIORE (Center of Biomass & Renewable Energy).
-Konsorsium Maris (Indonesia Aquatic biomass for global sustainable Energy) yang menggandeng PTPN VII lampung, Maris Project Netherland, UNDIP, Katholik leuven Belgia University, dan Wirana, yang mengembangkan mikroalga dalam limbah cair industri kelapa sawit.
-Salah satu Industri mikroalga yang sedang menggeliat di Indonesia adalah Neoalgae yang merupakan perusahaan murni didirikan pengusaha asli Indonesia dan menggunakan teknologi asli Indonesia bertempat di Solo. Saat ini perusahaan tersebut sedang dalam tahap proyek Mikroalga Spirulina Platensis dalam kekutsertaannya untuk memenuhi ketahanan pangan Indonesia. Spirulina merupakan spesies mikroalga yang mengandung protein lebih dari 50%, beta karotin, antioksidan, dan beberapa vitamin lainnya. Kisaran Harga Spirulina di Indonesia saat ini antara Rp.400.000-600.000/kilogram food grade standard. TS sempat bertemu dengan CEO nya dan mereka sedang dalam pengembangan menuju industri mikroalga terbesar di Indonesia. September tahun ini mereka akan membangun plant spirulina platensis terbesar di Indonesia 2-3 ton/bulan, dan dimungkinkan dalam beberapa tahun kedepan dapat memproduksi biodiesel/bioethanol, bahan kosmetik, farmasi, dari mikroalga.
Perkembangan Teknologi Mikroalga memang menarik untuk diikuti, mengingat aplikasinya yang sangat besar dan luas, tidak hanya di energi, tapi juga ketahanan pangan, dan fine chemical. Kita tunggu saja informasi positifnya.
"setiap sel mikroalga adalah reaktor kecil yang memproduksi pangan, energi, dan produk bernilai tinggi dengan menyerap karbon dioksida, nutrien, serta cahaya matahari lewat proses fotosintesis"
(sumber : http://livebeta.kaskus.co.id/post/000000000000000713971751#post000000000000000713971751 )
Disadari atau tidak, beberapa peneliti meyakini bahwa dengan teknologi mikroalga, ketiga sumber bencana massal itu bakal dipecahkan oleh sel kecil yang disebut mikroalga (dalam bahasa kita disebut mikro-lumut).
Mikroalga memiliki potensi sebagai bahan baku penghasil energi. Tidak dipungkiri bahwa pertumbuhan mikroalga lebih cepat dari beberapa tumbuhan lain yang dapat menghasilkan minyak, seperti jagung, kedelai, kelapa sawit, dan bunga matahari. Selain itu mikroalga tidak membutuhkan banyak lahan dan air untuk pertumubuhan. Lebih jauh lagi, mikroalga tidak menghasilkan limbah yang berdampak buruk bagi lingkungan sehingga tidak mempengaruhi kualitas air yang telah digunakan sebagai pertumbuhan.
Kenapa disebut generasi ketiga?
Mikroalga tidak menjamah dalam aspek pangan, meski di antara beberapa spesiesnya dapat digunakan untuk pangan. Berbeda dengan jagung, palm oil, coconut oil, dan beberapa tumbuhan tingkat tinggi lain yang masih dibutuhkan oleh kelangsungan hidup manusia, mikroalga tidak masuk dalam aspek pangan. Dan digadang gadang, mikroalga dapat tumbuh lebih masiv dari tumbuhan tingkat tinggi, lebih membutuhkan sedikit air, dan menyerap karbon dioksida dalam jumlah yang cukup tinggi. Mikroalga juga dapat tumbuh di hampir semua tempat, bahkan dapat memanfaatkan limbah cair industri, seperti Agroindustri untuk kelangsungan hidupnya.
Salah satu contoh proyek mikroalga dalam limbah kelapa sawit PTPN VII (TS pernah ikut dlm proyek), keuntungannya di antaranya: dapat menurunkan kadar COD BOD (senyawa yg berbahaya utk lingkungan) yang terdapat dalam limbah, dapat menyerap kadar tanin dalam limbah, dan menyerap senyawa nitrogen, dan beberapa senyawa lain dalam limbah, menkonversinya menjadi biomassa yang bermanfaat. Itulah kenapa mikroalga disebut sebagai small amazing factory, pertama dapat digunakan sebagai stok pangan (salah satunya spirulina berprotein lebih dari 50%), stok energi (salah satunya chlorella yang memiliki kadar lipid 30%), dan dapat digunakan untuk mentreatment air limbah sehingga air buangan akan lebih aman direlease ke lingkungan.
Biomass dari mikroalga dapat diolah menjadi beberapa turunan produk bioenergi seperti biodiesel (cara transesterifikasi), bioethanol (cara fermentasi), biobuthanol, maupun SVO (Straight Vegetable Oil) di mana minyak yang dihasilkan dari mikroalga langsung digunakan untuk mesin diesel yang telah dimodifikasi.
Dewasa ini sudah mulai banyak perusahaan berbasis mikroalga yang bermunculan di beberapa negara maju. Salah satu perusahaan berbasis mikroalga adalah Algenol, perusahaan menghasil biethanol dari mikroalga yang baru baru ini bekerja sama dengan Dow Chemical untuk membuat proyek petroleum dari mikroalga di Texas Amerika. Perusahaan lain yang juga terkenal akan mikroalga berbasis energi lainnya adalah Solazyme, yang menghebohkan dunia tentang bahan bakar jet nya yang dibuat dari biomassa mikroalga.
Tantangan Terbesar
Mikroalga untuk energi memang meyakinkan jika digunakan sebagai bahan baku dalam industri energi di masa depan. Namun tidak dipungkiri juga bahwa teknologi ini masih merupakan tahap awal di era milenium ini. Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan produksi mikroalga untuk energi ada pada dowenstream processing, pada bagian pengolahan akhir, yakni mengubah biomassa menjadi energi seperti biodiesel, maupun bioethanol.
Biaya terbesar dalam produksi justru terletak dalam proses pemanenan mikroalga, karena hampir 90% mikroalga mengandung air sehingga membutuhkan teknologi yang cukup mahal dalam memisahkan air dan mikroalga yang sebagian besar ukurannya dalam kisaran 5-10 mikron. Solazyme juga mengamini opini ini. Dalam website mereka, Solazyme masih kesusahan dalam memproses pemisahan mikroalga dari mediumnya agar biaya operasi menjadi lebih rendah, serendah mungkin.
Bagaimana Perkembangan di Indonesia?
Indonesia masih terus mengembangkan teknologi mikroalga melalui kementrian riset & teknologi, kementrian ESDM, LIPI, maupun universitas di Indonesia. TS pernah menghadiri simposium biomass untuk energi di LIPI, dan sempat menanyakan perkembangan teknologi mikroalga ke salah satu petingginya, dan menjawab sedang dalam development pemilihan spesies2 mikroalga berbasis energi yang berpotensi dikembangkan di Indonesia.
-Dari pihak universitas, salah satunya adalah UNDIP Semarang yang gencar meneliti mikroalga berbasis lipid yang dimulai awal tahun kemarin lewat pusat riset C-BIORE (Center of Biomass & Renewable Energy).
-Konsorsium Maris (Indonesia Aquatic biomass for global sustainable Energy) yang menggandeng PTPN VII lampung, Maris Project Netherland, UNDIP, Katholik leuven Belgia University, dan Wirana, yang mengembangkan mikroalga dalam limbah cair industri kelapa sawit.
-Salah satu Industri mikroalga yang sedang menggeliat di Indonesia adalah Neoalgae yang merupakan perusahaan murni didirikan pengusaha asli Indonesia dan menggunakan teknologi asli Indonesia bertempat di Solo. Saat ini perusahaan tersebut sedang dalam tahap proyek Mikroalga Spirulina Platensis dalam kekutsertaannya untuk memenuhi ketahanan pangan Indonesia. Spirulina merupakan spesies mikroalga yang mengandung protein lebih dari 50%, beta karotin, antioksidan, dan beberapa vitamin lainnya. Kisaran Harga Spirulina di Indonesia saat ini antara Rp.400.000-600.000/kilogram food grade standard. TS sempat bertemu dengan CEO nya dan mereka sedang dalam pengembangan menuju industri mikroalga terbesar di Indonesia. September tahun ini mereka akan membangun plant spirulina platensis terbesar di Indonesia 2-3 ton/bulan, dan dimungkinkan dalam beberapa tahun kedepan dapat memproduksi biodiesel/bioethanol, bahan kosmetik, farmasi, dari mikroalga.
Perkembangan Teknologi Mikroalga memang menarik untuk diikuti, mengingat aplikasinya yang sangat besar dan luas, tidak hanya di energi, tapi juga ketahanan pangan, dan fine chemical. Kita tunggu saja informasi positifnya.
"setiap sel mikroalga adalah reaktor kecil yang memproduksi pangan, energi, dan produk bernilai tinggi dengan menyerap karbon dioksida, nutrien, serta cahaya matahari lewat proses fotosintesis"
(sumber : http://livebeta.kaskus.co.id/post/000000000000000713971751#post000000000000000713971751 )
Friday, September 28, 2012
Kulit pisang,jeruk dan duku sebagai pengganti isi baterai
Kali ini saya akan mengulas tentang percobaan kami yang diikut kan lomba karya ilmiah tingkat fakultas di Universitas Sriwijaya.Bahasan nya adalah "Kulit pisang,jeruk dan duku sebagai pengganti isi baterai".Sebagai manusia yang peduli terhadap lingkungan,dan kalangan menengah ke bawah,kita harus bisa memutar otak untuk dapat mencari sesuatu yang dapat dimanfaatkan baik bagi diri sendiri,masyarakat sekitar dan umumnya untuk setiap orang yang membutuhkan.
Tujuan membahas tentang ini adalah
1.Memanfaatkan barang bekas yang dapat dijadikan sebuah energi
2.Mengurangi limbah baik baterai bekas,kulit duku,kulit jeruk,maupun kulit pisang
3.Mudah untuk dipraktikan oleh siapa saja
4.Mudah didapatkan oleh tiap kalangan
5.Ekonomis dibanding membeli baterai baru
6.dll
Baterai merupakan sebuah kaleng berisi penuh bahan-bahan kimia yang dapat memproduksi electron. Reaksi kimia yang dapat menghasilkan electron disebut dengan Reaksi Elektrokimia. Jika kita memperhatikan, kita bisa lihat
bahwa betrai memiliki dua terminal. Terminal pertama bertanda Positif (+) dan terminal Kedua bertanda negatif (-).
Elektron-elektron di kumpulkan pada kutub negatif. Jika kita menghubungkan kabel antara kutub negatif dan kutub positif, maka elektron akan mengalir dari kutub negatif ke kutub positif dengan cepatnya. Selain kabel, sebuah penghubung atau Load dapat berupa light bulb, sebuah motor atau sirkuit elektronik seperti radio.
Di dalam beterai sendiri, terjadi sebuah reaksi kimia yang menghasilkan elektron. Kecepatan dari proses ini (elektron, sebagai hasil dari elektrokimia) mengontrol seberapa banyak elektron dapat mengalir diantara kedua kutub. Elektron mengalir dari baterai ke kabel dan tentunya bergerak dari kutun negatif ke lutub positif tempat dimana reaksi kimia tersebutr sedang berlangsung. Dan inilah alsan mengapa baterai bisa bertahan selama satu tahun dan masih memiliki sedikit power, selama tidak terjadi reaksi kimia atau selama kita tidak menghubungkannya dengan kabel atau sejenis Load lain. Seketika kita menghubungkannya dengan kabel maka reaksi kimia pun dimulai.
Secara harfiah berarti baterai. Yang berfungsi sebagai media penyimpan dan penyedia energi listrik. Sumber listrik yang digunakan sebagai pembangkit power dalam bentuk arus searah (DC). Alat ini digunakan elektronika termasuk diantaranya komputer. Baterai merupakan sekumpulan sel-sel kimia yang masing-masing berisi dua electron logem yang dicelupkan dalam larutan penghntar yang disebut elektrolit.Akibat reaksi-reaksi kimia antara konduktor-konduktor dan elektrolit satu elektroda anoda bermuatan positif dan lainnya, katoda ,menjadi bermuatan negatif.
Baterai adalah alat listrik-kimiawi yang menyimpan energi dan mengeluarkannya dalam bentuk listrik. Baterai terdiri dari tiga komponen penting, yaitu: batang karbon sebagai anoda (kutub positif baterai) seng (Zn) sebagai katoda (kutub negatif baterai) pasta sebagai elektrolit (penghantar).
Penemu Baterai
1748 - Benjamin Franklin pertama kali memakai "baterai" istilah untuk menggambarkan array pelat kaca dibebankan.
1780-1786 - Luigi Galvani menunjukkan apa yang sekarang kita pahami sebagai dasar listrik impuls saraf dan memberikan landasan penelitian untuk penemu kemudian seperti Volta untuk membuat baterai.
1.800 Pile Voltaic - Alessandro Volta menemukan Pile Voltaic dan menemukan metode praktis pertama dari pembangkit listrik. Dibangun dari bolak cakram seng dan tembaga dengan potongan-potongan karton direndam dalam air garam antara logam, Pile Voltic menghasilkan arus listrik. Busur melakukan logam yang digunakan untuk membawa listrik lebih dari jarak yang lebih besar. Tumpukan volta Alessandro Volta adalah yang pertama "sel baterai basah" yang menghasilkan arus, handal stabil listrik.
1.836 your Daniell - The Pile Voltaic tidak bisa memberikan arus listrik untuk jangka waktu yang panjang. Inggris, John F. Daniell menemukan your Daniell yang digunakan dua elektrolit: tembaga sulfat dan seng sulfat. The your Daniel berlangsung lebih lama maka sel Volta atau tumpukan. Ini baterai, yang memproduksi sekitar 1,1 volt, digunakan untuk benda-benda listrik seperti telegraf, telepon, dan bel pintu, tetap populer di rumah selama lebih dari 100 tahun.
1.839 Fuel Cell - William Robert Grove mengembangkan pertama sel bahan bakar , yang menghasilkan listrik dengan menggabungkan hidrogen dan oksigen.
1839-1842 - Penemu menciptakan perbaikan baterai yang digunakan elektroda cair untuk menghasilkan listrik. Bunsen (1842) dan Grove (1839) menemukan paling sukses.
1859 Rechargeable - penemu Perancis, Gaston Plante mengembangkan penyimpanan praktis pertama timbal-asam baterai yang bisa diisi ulang (baterai sekunder). Jenis baterai terutama digunakan dalam mobil saat ini.
1.866 Leclanche Karbon-Seng your - insinyur Perancis, Georges Leclanche dipatenkan sel baterai karbon-seng basah disebut sel Leclanche. Menurut Sejarah Baterai: "sel asli George Leclanche yang dikumpulkan dalam panci berpori The elektroda positif terdiri dari mangan dioksida dengan karbon hancur sedikit dicampur masuk kutub negatif adalah batang seng katoda itu dikemas ke dalam panci,.. dan batang karbon dimasukkan untuk bertindak sebagai kolektor mata uang Batang anoda atau seng dan pot kemudian direndam dalam larutan amonium klorida.. Cairan bertindak sebagai elektrolit, mudah merembes melalui cangkir berpori dan membuat kontak dengan bahan katoda Cairan bertindak. sebagai elektrolit, mudah merembes melalui cangkir berpori dan membuat kontak dengan bahan katoda. " Georges Leclanche kemudian lebih ditingkatkan desainnya dengan menggantikan pasta amonium klorida untuk cairan elektrolit dan menciptakan metode menyegel baterai, menciptakan sel kering dulu, desain ditingkatkan yang sekarang diangkut.
1881 - JA Thiebaut dipatenkan baterai pertama dengan kedua elektroda negatif dan pot berpori ditempatkan dalam cangkir seng.
1881 - Carl Gassner menemukan sel baterai kering pertama yang sukses secara komersial (seng-karbon sel).
1899 - Waldmar Jungner menemukan baterai nikel-kadmium pertama diisi ulang.
1.901 Penyimpanan Alkaline - Thomas Alva Edison menemukan aki alkali. Sel alkali Thomas Edison memiliki besi sebagai bahan anoda (-) dan oksida nickelic sebagai bahan katoda (+).
1.949 Alkaline-Mangan Baterai - Lew Urry mengembangkan baterai alkaline kecil pada tahun 1949. Penemunya bekerja untuk Eveready Battery Co di laboratorium penelitian mereka di Parma, Ohio. Baterai Alkaline terakhir lima sampai delapan kali selama seng-karbon sel, para pendahulu mereka.
1.954 Sel Surya - Gerald Pearson, Calvin Fuller dan Daryl Chapin menemukan pertama baterai surya . Sebuah baterai surya mengubah energi matahari untuk listrik. Pada tahun 1954, Gerald Pearson, Calvin Fuller dan Daryl Chapin menemukan baterai surya pertama. Para penemu menciptakan sebuah array dari beberapa lembar silikon (masing-masing tentang ukuran Razorblade), menempatkan mereka di bawah sinar matahari, menangkap elektron bebas dan mengubahnya menjadi arus listrik. Bell Laboratories di New York mengumumkan pembuatan prototipe dari baterai surya baru. Bell telah mendanai penelitian itu. Sidang pelayanan publik pertama dari Bell Solar Battery dimulai dengan sistem operator telepon (Americus, Georgia) pada tanggal 4 Oktober 1955.
1964 - Duracell didirikan.
(sumber : http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://inventors.about.com/od/bstartinventions/a/History-Of-The-Battery.htm)
Pengolahan Data
Bahan-Bahan Yang Diperlukan
Adapun bahan-bahan yang diperlukan pada pecobaan ini,yaitu:
1.Baterai bekas/baru
2.Kulit Pisang
3.Oven/Sinar Matahari
4.Mixer/Pengaduk
5.Kulit Duku
6.AVOmeter
7.Kabel Jumper
8.LED
Prosedur Percobaan
Adapun prosedur ataupun tata cara yang dilakukan pada percobaan ini,yaitu:
1.Siapkan baterai dan kulit pisang dan duku
2.Kemudian oven kulit pisang dan duku di oven / atau dapat dijemur di sinar matahari
3.Setelah kulit pisang dan duku kering dan berubah warna menjadi hitam,kemudian mixer atau ditumbuk menjadi halus
4.Setelah itu karbon isi baterai dikeluarkan,dan masukkan kulit pisang dan duku tadi yang telah ditumbuk halus
5.Kemudian pasang lagi baterai seperti awalnya
6.Langkah berikutnya ambil AVOmeter untuk menghitung voltase yang dihasilkan baterai
7.Setelah mendapatkan tegangan coba dihubungkan dengan lampu LED
Data Percobaan
Setelah kami melakukan percobaan menggunakan bahan yang homogenya yaitu,kulit pisang,dan kemudian kami bandingkan hasilnya dengan bahan heterogen yaitu percampuran antara kulit pisang dan kulit jeruk.
Setelah percobaan dengan bahan yang homogen,didapatkan hasil tegangannya sebesar 0,862 Volt sedangkan dengan bahan yang heterogen didaptkan hasil tegangannya sebesar 1,749 Volt.
Mungkin sekilas dapat memberikan wawasan dan membuka pikiran para pembaca agar sekira nya bisa peka terhadap lingkungan,karena tanpa kita sadari sesuatu yang kita kira adalah "sampah" ternyata dapat kita manfaatkan.
Tujuan membahas tentang ini adalah
1.Memanfaatkan barang bekas yang dapat dijadikan sebuah energi
2.Mengurangi limbah baik baterai bekas,kulit duku,kulit jeruk,maupun kulit pisang
3.Mudah untuk dipraktikan oleh siapa saja
4.Mudah didapatkan oleh tiap kalangan
5.Ekonomis dibanding membeli baterai baru
6.dll
Baterai merupakan sebuah kaleng berisi penuh bahan-bahan kimia yang dapat memproduksi electron. Reaksi kimia yang dapat menghasilkan electron disebut dengan Reaksi Elektrokimia. Jika kita memperhatikan, kita bisa lihat
bahwa betrai memiliki dua terminal. Terminal pertama bertanda Positif (+) dan terminal Kedua bertanda negatif (-).
Elektron-elektron di kumpulkan pada kutub negatif. Jika kita menghubungkan kabel antara kutub negatif dan kutub positif, maka elektron akan mengalir dari kutub negatif ke kutub positif dengan cepatnya. Selain kabel, sebuah penghubung atau Load dapat berupa light bulb, sebuah motor atau sirkuit elektronik seperti radio.
Di dalam beterai sendiri, terjadi sebuah reaksi kimia yang menghasilkan elektron. Kecepatan dari proses ini (elektron, sebagai hasil dari elektrokimia) mengontrol seberapa banyak elektron dapat mengalir diantara kedua kutub. Elektron mengalir dari baterai ke kabel dan tentunya bergerak dari kutun negatif ke lutub positif tempat dimana reaksi kimia tersebutr sedang berlangsung. Dan inilah alsan mengapa baterai bisa bertahan selama satu tahun dan masih memiliki sedikit power, selama tidak terjadi reaksi kimia atau selama kita tidak menghubungkannya dengan kabel atau sejenis Load lain. Seketika kita menghubungkannya dengan kabel maka reaksi kimia pun dimulai.
Secara harfiah berarti baterai. Yang berfungsi sebagai media penyimpan dan penyedia energi listrik. Sumber listrik yang digunakan sebagai pembangkit power dalam bentuk arus searah (DC). Alat ini digunakan elektronika termasuk diantaranya komputer. Baterai merupakan sekumpulan sel-sel kimia yang masing-masing berisi dua electron logem yang dicelupkan dalam larutan penghntar yang disebut elektrolit.Akibat reaksi-reaksi kimia antara konduktor-konduktor dan elektrolit satu elektroda anoda bermuatan positif dan lainnya, katoda ,menjadi bermuatan negatif.
Baterai adalah alat listrik-kimiawi yang menyimpan energi dan mengeluarkannya dalam bentuk listrik. Baterai terdiri dari tiga komponen penting, yaitu: batang karbon sebagai anoda (kutub positif baterai) seng (Zn) sebagai katoda (kutub negatif baterai) pasta sebagai elektrolit (penghantar).
Penemu Baterai
1748 - Benjamin Franklin pertama kali memakai "baterai" istilah untuk menggambarkan array pelat kaca dibebankan.
1780-1786 - Luigi Galvani menunjukkan apa yang sekarang kita pahami sebagai dasar listrik impuls saraf dan memberikan landasan penelitian untuk penemu kemudian seperti Volta untuk membuat baterai.
1.800 Pile Voltaic - Alessandro Volta menemukan Pile Voltaic dan menemukan metode praktis pertama dari pembangkit listrik. Dibangun dari bolak cakram seng dan tembaga dengan potongan-potongan karton direndam dalam air garam antara logam, Pile Voltic menghasilkan arus listrik. Busur melakukan logam yang digunakan untuk membawa listrik lebih dari jarak yang lebih besar. Tumpukan volta Alessandro Volta adalah yang pertama "sel baterai basah" yang menghasilkan arus, handal stabil listrik.
1.836 your Daniell - The Pile Voltaic tidak bisa memberikan arus listrik untuk jangka waktu yang panjang. Inggris, John F. Daniell menemukan your Daniell yang digunakan dua elektrolit: tembaga sulfat dan seng sulfat. The your Daniel berlangsung lebih lama maka sel Volta atau tumpukan. Ini baterai, yang memproduksi sekitar 1,1 volt, digunakan untuk benda-benda listrik seperti telegraf, telepon, dan bel pintu, tetap populer di rumah selama lebih dari 100 tahun.
1.839 Fuel Cell - William Robert Grove mengembangkan pertama sel bahan bakar , yang menghasilkan listrik dengan menggabungkan hidrogen dan oksigen.
1839-1842 - Penemu menciptakan perbaikan baterai yang digunakan elektroda cair untuk menghasilkan listrik. Bunsen (1842) dan Grove (1839) menemukan paling sukses.
1859 Rechargeable - penemu Perancis, Gaston Plante mengembangkan penyimpanan praktis pertama timbal-asam baterai yang bisa diisi ulang (baterai sekunder). Jenis baterai terutama digunakan dalam mobil saat ini.
1.866 Leclanche Karbon-Seng your - insinyur Perancis, Georges Leclanche dipatenkan sel baterai karbon-seng basah disebut sel Leclanche. Menurut Sejarah Baterai: "sel asli George Leclanche yang dikumpulkan dalam panci berpori The elektroda positif terdiri dari mangan dioksida dengan karbon hancur sedikit dicampur masuk kutub negatif adalah batang seng katoda itu dikemas ke dalam panci,.. dan batang karbon dimasukkan untuk bertindak sebagai kolektor mata uang Batang anoda atau seng dan pot kemudian direndam dalam larutan amonium klorida.. Cairan bertindak sebagai elektrolit, mudah merembes melalui cangkir berpori dan membuat kontak dengan bahan katoda Cairan bertindak. sebagai elektrolit, mudah merembes melalui cangkir berpori dan membuat kontak dengan bahan katoda. " Georges Leclanche kemudian lebih ditingkatkan desainnya dengan menggantikan pasta amonium klorida untuk cairan elektrolit dan menciptakan metode menyegel baterai, menciptakan sel kering dulu, desain ditingkatkan yang sekarang diangkut.
1881 - JA Thiebaut dipatenkan baterai pertama dengan kedua elektroda negatif dan pot berpori ditempatkan dalam cangkir seng.
1881 - Carl Gassner menemukan sel baterai kering pertama yang sukses secara komersial (seng-karbon sel).
1899 - Waldmar Jungner menemukan baterai nikel-kadmium pertama diisi ulang.
1.901 Penyimpanan Alkaline - Thomas Alva Edison menemukan aki alkali. Sel alkali Thomas Edison memiliki besi sebagai bahan anoda (-) dan oksida nickelic sebagai bahan katoda (+).
1.949 Alkaline-Mangan Baterai - Lew Urry mengembangkan baterai alkaline kecil pada tahun 1949. Penemunya bekerja untuk Eveready Battery Co di laboratorium penelitian mereka di Parma, Ohio. Baterai Alkaline terakhir lima sampai delapan kali selama seng-karbon sel, para pendahulu mereka.
1.954 Sel Surya - Gerald Pearson, Calvin Fuller dan Daryl Chapin menemukan pertama baterai surya . Sebuah baterai surya mengubah energi matahari untuk listrik. Pada tahun 1954, Gerald Pearson, Calvin Fuller dan Daryl Chapin menemukan baterai surya pertama. Para penemu menciptakan sebuah array dari beberapa lembar silikon (masing-masing tentang ukuran Razorblade), menempatkan mereka di bawah sinar matahari, menangkap elektron bebas dan mengubahnya menjadi arus listrik. Bell Laboratories di New York mengumumkan pembuatan prototipe dari baterai surya baru. Bell telah mendanai penelitian itu. Sidang pelayanan publik pertama dari Bell Solar Battery dimulai dengan sistem operator telepon (Americus, Georgia) pada tanggal 4 Oktober 1955.
1964 - Duracell didirikan.
(sumber : http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://inventors.about.com/od/bstartinventions/a/History-Of-The-Battery.htm)
Pengolahan Data
Bahan-Bahan Yang Diperlukan
Adapun bahan-bahan yang diperlukan pada pecobaan ini,yaitu:
1.Baterai bekas/baru
2.Kulit Pisang
3.Oven/Sinar Matahari
4.Mixer/Pengaduk
5.Kulit Duku
6.AVOmeter
7.Kabel Jumper
8.LED
Prosedur Percobaan
Adapun prosedur ataupun tata cara yang dilakukan pada percobaan ini,yaitu:
1.Siapkan baterai dan kulit pisang dan duku
2.Kemudian oven kulit pisang dan duku di oven / atau dapat dijemur di sinar matahari
3.Setelah kulit pisang dan duku kering dan berubah warna menjadi hitam,kemudian mixer atau ditumbuk menjadi halus
4.Setelah itu karbon isi baterai dikeluarkan,dan masukkan kulit pisang dan duku tadi yang telah ditumbuk halus
5.Kemudian pasang lagi baterai seperti awalnya
6.Langkah berikutnya ambil AVOmeter untuk menghitung voltase yang dihasilkan baterai
7.Setelah mendapatkan tegangan coba dihubungkan dengan lampu LED
Data Percobaan
Setelah kami melakukan percobaan menggunakan bahan yang homogenya yaitu,kulit pisang,dan kemudian kami bandingkan hasilnya dengan bahan heterogen yaitu percampuran antara kulit pisang dan kulit jeruk.
Setelah percobaan dengan bahan yang homogen,didapatkan hasil tegangannya sebesar 0,862 Volt sedangkan dengan bahan yang heterogen didaptkan hasil tegangannya sebesar 1,749 Volt.
Mungkin sekilas dapat memberikan wawasan dan membuka pikiran para pembaca agar sekira nya bisa peka terhadap lingkungan,karena tanpa kita sadari sesuatu yang kita kira adalah "sampah" ternyata dapat kita manfaatkan.
Tuesday, October 18, 2011
Potensi Limbah Kulit Pisang Sebagai Pengganti isi Batere
Pisang bisa disebutkan sebagai buah kehidupan. Kandungan kalium yang cukup banyak terdapat dalam buah ini mampu menurunkan tekanan darah, menjaga kesehatan jantung, dan memperlancar pengiriman oksigen ke otak. Pisang telah lama akrab dengan masyarakat Indonesia, terbukti dari seringnya pohon pisang digunakan sebagai perlambang dalam berbagai upacara adat. Pohon pisang selalu melakukan regenerasi sebelum berbuah dan mati, yaitu melalui tunas-tunas yang tumbuh pada bonggolnya. Dengan cara itulah pohon pisang mempertahankan eksistensinya untuk memberikan manfaatkan kepada manusia. Filosofi tersebutlah yang mendasari penggunaan pohon pisang sebagai simbol niat luhur pada upacara pernikahan.
Iklim tropis yang sesuai serta kondisi tanah yang banyak mengandung humus memungkinkan tanaman pisang tersebar luas di Indonesia. Saat ini, hampir seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah penghasil pisang.
Pisang mempunyai banyak manfaat yaitu dari mulai mengatasi masalah kecanduan rokok sampai untuk masalah kecantikan seperti masker wajah, mengatasi rambut yang rusak dan menghaluskan tangan.
Selain buahnya pisang jarang dimanfaatkan, seperti batang, bonggol, kulit dan jantungnya. Tetapi seiring dengan bertambahnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka banyak yang bisa dimanfaatkan dari limbah-limbah yang jarang dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga akan meningkatkan kualitas dari limbah tersebut dan menambah nilai ekonomi dari limbah tersebut.
Reuse
Contoh penanganan limbah pisang dengan cara guna ulang (Reuse) ialah
a. Kulit Pisang Ambon Bisa Digunakan Untuk Pengobatan. `
Pisang ambon sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Selain mengandung vitamin C, pisang ambon juga mengandung serat tinggi yang berfungsi melancarkan saluran pencernaaan, sehingga buang air besar pun jadi lancar. Ternyata, selain buahnya, kulit pisang ambon pun berguna untuk mengobati bercak-bercak hitam agak kasar ( misalnya bekas cacar) pada kulit. Caranya, gosokkan kulit pisang ambon bagian dalam pada kulit yang terdapat bekas cacar. Biarkan beberapa saat, setelah itu cuci dengan air hangat. Lakukan cara ini secara rutin dan penuh kesabaran. Hasilnya, kulit akan kembali mulus seperti sediakala
b. Bonggol pisang untuk obat dan makanan
Air bonggol pisang kepok dan klutuk juga diketahui dapat dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit disentri, pendarahan usus, obat kumur serta untuk memperbaiki pertumbuhan dan menghitamkan rambut. Sedangkan untuk makanan, bonggol pisang dapat diolah menjadi penganan, seperti urap dan lalapan
c. Batang Pisang yang dijadikan pakan ternak
Batang pisang yang tidak dipakai biasanya langsung dibuang atau untuk menahan laju air tapi selain itu batang pisang juga bisa digunakan untuk pakan ternak karena kandungan yang terkandung di dalam batang pisang dapat meningkatkan gizi pada ternak tersebut sehingga akan meningkatkan kualitas dari ternak tersebut
Recycle
Contoh penanganan limbah pisang dengan cara daur ulang (recycle) ialah
a. Cuka Kulit Pisang
Mula-mula kumpulkan kulit pisang sebanyak 100 kg dan lakukan proses produksi selama 4-5 minggu. Kebutuhan bahan-bahan lain mencakup: 20 kg gula pasir, 120 gr ammonium sulfit (NH4)2S03, 0,5 kg ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) dan 25 liter induk cuka (Acetobacter aceti).
Cara rnembuatnya, kulit pisang dipotong-potong atau dicacah, lalu direbus dengan air sebanyak 150 liter. Saring dengan kain dalam stoples. Berdasarkan uji lapangan, bahan awal kulit pisang yang direbus itu akan menghasilkan cairan kulit pisang kira-kira 135 liter, bagian yang hilang 7,5 kg, dan sisa bahan padat sekitar 112,5 kg. Setelah disaring ke stoples, cairan kulit pisang ini perlu ditambah ammonium sulfit dan gula pasir.
Langkah berikut, didinginkan dan tambahkan ragi roti. Biarkan fermentasi berlangsung satu minggu. Hasilnya disaring lagi. Dari 135 liter cairan kulit pisang setelah difermentasi dan disaring menjadi 130 liter larutan beralkohol, dan lima liter produk yang tidak terpakai. Pada larutan beralkohol itu ditambahkan induk cuka, dan biarkan fermentasi berlangsung selama tiga minggu.
Selanjutnya, hasil fermentasi larutan beralkohol dididihkan. Nah, dalam kondisi masih panas, cuka pisang dimasukkan ke dalam botol plastik. Lalu segera ditutup dan disimpan dalam temperatur kamar. Biasanya pemasaran cuka pisang dikemas dalam plastik berukuran 40 ml, 60 ml, atau 80 ml. Jika dihitung, dari 100 kg kulit pisang akan diperoleh sekitar 120 liter cuka pisang.
b. Nata dari Kulit Pisang
Potensi buah-buahan lokal Nusantara untuk dikembangkan sebagai bahan makanan sudah terbukti. Salah satu buah tersebut yakni pisang. Buah ini selain bisa dimakan saat segar juga bisa dibuat berbagai jenis makanan, seperti ceriping, dan sale.
Sebuah penelitian terhadap buah pisang dilakukan tiga dosen Universitas Negeri Yogyakarta. Sekali lagi untuk menjadikan pisang sebagai produk olahan yang disukai masyarakat dengan tetap memiliki kandungan gizi.
Yang menarik, penelitian yang dilakukan Das Salirawati MSi, Eddy Sulistyowati Apt MS, dan Retno Arianingrum MSi yang semuanya adalah dosen Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam adalah bukan dilakukan pada buahnya, tetapi pada kulitnya. Penelitian ini sukses menjadikan kulit pisang-yang selama ini lebih banyak dibuang-menjadi nata.
Nata adalah serat yang berbentuk seperti gel yang dibuat dengan memanfaatkan kerja bakteri Acetobacter xylinum. “Selama ini masyarakat telah mengenal produk nata de coco atau nata yang dibuat dari air kelapa. Nata dari kulit pisang sebenarnya sama dengan nata de coco, bedanya nata pisang dibuat dari bahan dasar kulit pisang,” katanya, Rabu (8/3).
Ide membuat nata dari kulit pisang, karena terinspirasi dari penelitian sebelumnya yang bisa membuat nata dari buah pisang. “Kenapa kemudian memilih kulit pisang karena selama ini kulit pisang tidak termanfaatkan dan hanya dibuang begitu saja. Padahal kulit pisang ini banyak ditemui di sekitar kita, antara lain di tempat-tempat orang jual gorengan,” ucapnya.
Proses pembuatan nata kulit pisang yang pertama adalah mengerok kulit bagian dalam buah pisang. Hasil kerokan itu kemudian diblender dan dicampur air bersih dengan perbandingan 1 : 2, lalu disaring guna mendapatkan air perasan. Setelah itu ditambahkan asam cuka biasa dengan ukuran 4-5 persen dari volume air perasan. Jika menggunakan asam cuka absolut maka cukup 0,8 persen. Ditambahkan juga pupuk ZA sebanyak 0,8 persen dari larutan, dan gula pasir sebanyak 10 persen. Bahan-bahan tersebut dicampurkan untuk kemudian dipanaskan sampai mendidih.
“Asam cuka dan pupuk ZA berfungsi untuk media hidup bagi bakteri Acetobacter xylinum. Bakteri ini membutuhkan nitrogen dari pupuk ZA dan keasaman dari cuka. Acetobacter xylinum inilah yang nanti akan membentuk nata,” ujar Das.
Setelah mendidih lalu dituangkan dalam cetakan-cetakan. Dengan ketinggian cairan adonan lebih kurang 2-3 cm di setiap cetakan. Setelah dingin, dimasukkan bakteri Acetobacter xylinum-yang bisa dibeli dalam bentuk cairan-sebanyak 10 persen dari campuran. Sebelum memasukkan bakteri, adonan harus benar-benar dingin, sebab kalau masih panas bakteri akan mati. Setelah itu, cetakan ditutup dengan kertas koran. Ini supaya udara tetap bisa masuk melalui pori-pori kertas. Setelah dua minggu, cetakan baru boleh dibuka. Adonan pun akan berubah menjadi berbentuk gel.
Nata lalu diiris-iris, dicuci, dan diperas sampai kering. Untuk selanjutnya direbus lagi dengan air lebih kurang dua kali rebusan. Ini berfungsi untuk menghilangkan aroma asam cuka. Setelah selesai, nata bisa dicampur dengan sirop atau gula sesuai selera. Campuran rasa diperlukan karena nata berasa tawar. Nata dari kulit pisang pun siap disajikan untuk minuman, maupun makanan kecil lain. Diketahui dari 100 gram nata kulit pisang mengandung protein sebanyak 12 mg. Das Salirawati mengungkapkan, penelitian itu akan dilanjutkan untuk mencari ketebalan nata yang paling optimal. Dari percobaan awal, diketahui dari ketebalan cairan adonan dua cm diperoleh nata lebih kurang 1,5 cm. Masyarakat dipersilakan jika ingin mencoba membuat nata dari kulit pisang. “Ini bisa untuk usaha alternatif skala kecil,” tuturnya. (RWN)
c. Roti dari Kulit Pisang
Kulit pisang kerap dibuang begitu saja di sembarang tempat. Jika dibuang sembarangan, kulit pisang bisa membuat orang tergelincir. Namun, tiga mahasiswa Biologi ITS, tak pernah menganggap remeh kulit pisang. Karena setelah diteliti terbukti kulit pisang memang tak bisa dianggap barang remeh.
“Kulit pisang yang sering dianggap barang tak berharga itu, ternyata memiliki kandungan vitamin C, B, kalsium, protein, dan juga lemak yang cukup,” kata Sulfahri, salah satu dari 3 peneliti itu. Melihat kandungannya yang cukup tinggi, ia bersama dua rekan mencoba membuat penganan dari bahan kulit pisang itu.
“Semula, kami hanya memproduksi keripik kulit pisang, namun lama-kelamaan timbul ide untuk membuat tepung dari kulit pisang,” katanya. Mahasiswa angkatan 2007 itu mengatakan tepung pisang itu akhirnya digunakan sebagai bahan baku kue bolu. Meski berkali-kali gagal, namun akhirnya mereka menemukan formula yang pas untuk membuat bolu dari kulit pisang.
“Kalau dihitung lebih dari 50 kali, namun kami sekarang sudah puas dengan resep bolu yang kami miliki,” katanya. Kulit pisang yang cocok dibuat tepung adalah jenis pisang raja, karena kulit pisang raja lebih tebal dibandingkan jenis pisang lainnya.
Karya Sulfahri dan dua rekannya itu merupakan salah satu karya inovatif yang terpilih dalam penyaringan untuk “Biological Opus Fair” yang digelar di Plaza dr Angka ITS Surabaya pada 17 dan 18 April 2008.
Delapan produk inovatif yang dipamerkan adalah karya bertajuk “Pemanfaatan Kulit Buah Pisang Raja (Musa paradisiaca sapientum) sebagai Bahan Dasar Pembuatan Kue Bolu” (karya Sulfahri dari Jurusan Biologi ITS Surabaya), dan “Water Electric Light Trap (WEL-T) sebagai Pengganti Pestisida dalam Upaya Peningatan Produksi Pangan yang Ramah Lingkungan” (karya Resti Afiandinie dari Jurusan Teknik Kimia ITS).
Karya lain adalah “Pendayagunaan Talok (Muntingia calabura Linn) sebagai Salah Satu Sumber Alternatif Baru dalam Dunia Pangan” (Fitri Linda Sari dari Universitas Muhammadiyah Malang), kemudian “Potensi Suweg (Amorphophallus campanulatus Bl.) sebagai Alternatif Bahan Pangan (Upaya Menggali Potensi Pangan Lokal)” (Riana Dyah Suryaningrum dari Universitas Muhammadiyah Malang).
Disamping itu terdapat karya lain, seperti “Konversi Limbah Padat Menjadi Produk Ramah Lingkungan” (Sulistiono Ningsih dari Jurusan Biologi di Universitas Jember), “Pemanfaatan Mikroalga (Fitoplankton) sebagai Subtitusi Sumber Bahan Bakar Premium” (Abdul Azis Jaziri dari Jurusan Perikanan di Universitas Brawijaya Malang), “Diversifikasi Dioscorea Flour sebagai Sumber Alternatif Pangan” (Zainal Arifin dari Jurusan Biologi ITS Surabaya), kemudian “Pemanfaatan buah dan daun cersen/talok sebagai keripik dan dodol” (Ria Hayati dari Jurusan Biologi ITS Surabaya).
Tak berbeda dengan Sulfahri, Zaenal Arifin juga mencoba membuat diversifikasi pangan dari bahan umbi uwi. “Umbi yang bernama latin dioscorea alata itu ternyata dapat menjadi bahan pangan yang aman bagi penderita diabetes. Kadar gula uwi itu rendah, tapi karbohidratnya tinggi,” kata mahasiswa jurusan Biologi ITS itu.
Pengolahan uwi menjadi tepung itu pun tidak memerlukan proses yang rumit, bahkan cukup menggunakan metode tradisional.”Saya buat dari dua macam uwi, uwi putih dan juga uwi ungu yang sama-sama berkadar gula rendah. Uwi diparut kasar, kemudian direndam dengan air kapur untuk memisahkan parutan dengan getahnya. Air getah uwi itu bisa untuk pestisida yang ramah lingkungan,” ucapnya.
Parutan yang sudah dikeringkan, katanya, dapat langsung diolah menjadi tepung. “Tepung dari uwi ini dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai macam penganan, seperti kue dan mie. Rasa tepungnya sendiri tawar, jadi gampang divariasikan,” katanya.
d. Dendeng Jantung Pisang
Tanaman pisang tumbuh baik dan dibudidayakan di seluruh wilayah Indonesia. Jenis pohon mudah ditanam dan hampir setiap rumah di pedesaan memiliki pohon pisang ini.
Setiap petani dapat dipastikan menanam pisang, meskipun di antaranya hanya menanam pisang pada pekarangan.
Tak ada ruginya menanam pohon ini. Apalagi, seluruh bagian dari tanaman pisang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga mulai dari daun, buah, sampai bonggol pohonnya.
Buah dan bagian tanaman pisang pun bisa diolah menjadi berbagai macam jenis makanan olahan. Salah satu makanan olahan dari bagian tanaman pisang adalah dendeng jantung pisang.
Untuk membuat dendeng jantung pisang perlu disiapkan sejumlah bahan, meliputi empat buah jantung pisang, satu sendok makan ketumbar, 50 gr ikan teri, 10 siung bawang merah, dan empat siung bawang putih. Sedangkan kebutuhan peralatan terdiri atas pisau, kukusan, penumbuk, dan tampah.
Cara membuatnya, ambil jantung pisang yang masih segar. Buang kelopak bagian luar hingga tampak kelopak dalamnya berwarna putih kemerah-merahan. Jantung pisang tersebut direbus sampai lunak. Lalu ditumbuk sampai halus.
Selanjutnya, bumbu-bumbu ditumbuk lalu dimasak dalam wajan. Setelah itu, tumbukan jantung pisang dimasukkan ke dalam wajan berisi bumbu. Diaduk-aduk sampai merata, lalu tambahkan gula merah. Jika sudah masak, silakan diangkat dan segera dicetak di atas tampah. Jadilah dendeng jantung pisang yang telah dicetak. Dendeng tersebut dijemur selama 2-3 hari hingga kering. Lantas, digoreng hingga masak, dan akhirnya dikemas dalam kantong plastik.
e. Keripik Bonggol Pisang
Kebutuhan bahan untuk membuat keripik bonggol pisang terdiri atas bonggol pisang, natrium bisulfit, garam, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, merica, dan air. Sedangkan piranti yang mesti disiapkan adalah pisau, baskom, wajan, ember, kompor, talenan, dan alat penunjang lainnya.
Cara membuatnya, ambil bonggol pisang, lalu kupas kulit luarnya, dan dicuci dengan air bersih. Bonggol diiris menjadi irisan-irisan tipis sekitar 0,5 cm. Irisan bonggol direndam dalam larutan natrium bisulfit satu persen selama 2-3 menit (Pedomannya: 1 gram natrium bisulfit dicairkan ke dalam 1 liter air). Setelah direndam, irisan bonggol ditiriskan.
Selanjutnya, bumbu-bumbu ditumbuk sampai halus, lalu dimasukkan ke dalam baskom dan tambahkan sedikit air. Rendam irisan bonggol dalam baskom yang berisi bumbu, lalu diaduk sampai rata, dan biarkan sekitar 5-10 menit agar bumbunya meresap.
Irisan bonggol yang telah dibumbui itu digoreng, sambil dibolak-balik hingga kematangan merata. Angkat dan tiriskan. Akhirnya, jadilah keripik bonggol pisang yang dikemas dalam kantong plastik.
f. Batang Pisang Sebagai Bahan Dasar Kertas Daur Ulang
Batang pisang juga dapat di olah menjadi kertas, yaitu setelah mengalami proses pengeringan dan pengolahan lebih lanjut. proses pembuatan kertas dari bahan batang pisang pertama-tama yang harus dilakukan adalah, batang pisang tadi dipotong kecil-kecil dengan ukuran berkisar 25 cm, lalu di jemur di bawah terik matahari hingga kering. Setelah batang pisang tadi kering proses berikutnya adalah dengan cara direbus sampai menjadi lunak, namun pada saat proses perebusan sebaiknya di tambah dengan formalin atau kostik soda maksudnya adalah di samping untuk mempercepat proses pelunaan juga untuk menghilangkan getah-getah yang masih menempel pada batang pisang tadi, pada proses berikutnya batang pisang yang sudah lunak tadi disaring dan dibersihkan dari zat-zat kimia tadi baru kemudian di buat bubur ( pulp) dengan cara di blender. Baru kemudian dicetak menjadi lembaran-lembaran kertas.
Reduce
a. Kulit Pisang Menyimpan Tegangan Listrik
Siapa yang menyangka kulit pisang bisa dijadikan pengganti batu batterai. Cara pembuatannya pertama kulit pisang dan jeruk di buat jus, apabila tidak ada alat jus atau blender maka cukup dihancurkan atau di aduk hingga halus kemudian dicampur dengan air secukupnya. Setelah itu di buat sel elektrokimia dengan mengambil gelas kimia lalu larutan jus tadi ditaruh didalam gelas tersebut. Kemudian dibuat elektroda-elektroda yang terbuat dari Cu dan Zn. Tembaga dan seng disambung dengan kabel kemudian dibantu dengan tutup dari gabus dibuat variasi biar kelihatan menarik.
Satu sel adalah satu wadah atau satu gelas kimia yang berisi 2 elektroda dan 1 tutup. Kita ukur V dan I nya, V= Voltase, I= Amper setelah itu di aplikasikan atau dihubungkan kabel tersebut dengan benda percobaan. Aplikasi yang paling sederhana dan mudah diamati adalah kalkulator dan jam digital, begitu disambungkan ternyata kalkulator dan jam tersebut bisa hidup normal seperti dihubungkan pakai batu batterai
Dibandingkan dengan membeli batu batere, dengan menggunakan limbah kulit pisang sebagai pengganti batu batere akan mengurangi limbah dari pisang selain itu akan meningkatkan nilai jual dari kulit pisang itu sendiri dan akan mengurangi penggunaan batu batere yang kurang ramahh lingkungan
b. Daun pisang sebagai pembungkus makanan
Daun pisang digunakan untuk membungkus makanan karena dengan membungkus makanan dengan menggunakan daun pisang akan menambah cita rasa dalam makanan tersebut contoh bahan makanan yang sering menggunakan daun pisang sebagai pembungkus adalah tempe. Selain itu daun pisang juga oleh masyarakan (sekitar tahun 1945) biasa digunakan untuk membungkus rokok
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan akan mengurangi penggunaan plastic yang tidak ramah lingkungan karena yang sudah kita ketahui bahwa plastic tidak bisa terurai dan akan berdampak pada pemanasan global.
c. Kulit pisang untuk semir sepatu
Bagian dalam dari kulit pisang mengandung potassium yang merupakan bahan penting yang terdapat dalam semir sepatu yang ada di pasaran. Setelah menggunakan kulit pisang untuk menyemir sepatu, bersihkan sisa kulit buah yang mengandung vitamin C, B komplek dan B6 itu dengan menggunakan lap berbahan halus. Kandungan minyak yang terdapat dalam pisang akan melembutkan serta mengawetkan kulit sepatu
Dengan menggunakan kulit pisang kita dapat mengurangi pemakaian semir sepatu yang bahannya tidak alami yang lama kelamaan akan mengurangi kualitas dari sepatu itu dan selain itu dengan mengguanakan kulit pisang kita bisa mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli semir sepatu.
Dengan memanfaatkan limbah pisang sebagai bahan-bahan yang akan meningkatkan nilai tambah dari limbah tersebut maka kita juga akan mengefisienkan biaya dan energy. Contoh dari pengefisienan biaya adalah dengan menggunakan kulit pisang sebagai semir sepatu. Dengan menggunakan kulit pisang sebagai pemnggati dari semir sepatu kita bisa mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli semir sepatu, dengan membeli pisang kita bisa mendapatkan dua keuntungan yaitu buah pisang yang mengandung banyak vitamin dan kulit pisang yang bisa dibuat semir sepatu. Sedangkan contoh untuk pengefisienan energy adalah dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan, dengan menggunakan daun pisang kita bisa menghemat energy yang keluar dari plastic yang sering digunakan karena dengan menggunakan plastic sebagai pembungkus makanan akan mengakibatkan pemanasan global.
Dengan memanfaatkan limbah pisang sebagai produk baru maka akan meningkatkan nilai tambah dari limbah tersebut. Dan akan meningkatkan nilai jual dari limbah yang tadinya tidak berguna jadi berguna.
Dikutip(http://www.facebook.com/pages/AL-GHIFFARI-FOREST-COMMUNITY-INDONESIA/290280401278)
Iklim tropis yang sesuai serta kondisi tanah yang banyak mengandung humus memungkinkan tanaman pisang tersebar luas di Indonesia. Saat ini, hampir seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah penghasil pisang.
Pisang mempunyai banyak manfaat yaitu dari mulai mengatasi masalah kecanduan rokok sampai untuk masalah kecantikan seperti masker wajah, mengatasi rambut yang rusak dan menghaluskan tangan.
Selain buahnya pisang jarang dimanfaatkan, seperti batang, bonggol, kulit dan jantungnya. Tetapi seiring dengan bertambahnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka banyak yang bisa dimanfaatkan dari limbah-limbah yang jarang dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga akan meningkatkan kualitas dari limbah tersebut dan menambah nilai ekonomi dari limbah tersebut.
Reuse
Contoh penanganan limbah pisang dengan cara guna ulang (Reuse) ialah
a. Kulit Pisang Ambon Bisa Digunakan Untuk Pengobatan. `
Pisang ambon sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Selain mengandung vitamin C, pisang ambon juga mengandung serat tinggi yang berfungsi melancarkan saluran pencernaaan, sehingga buang air besar pun jadi lancar. Ternyata, selain buahnya, kulit pisang ambon pun berguna untuk mengobati bercak-bercak hitam agak kasar ( misalnya bekas cacar) pada kulit. Caranya, gosokkan kulit pisang ambon bagian dalam pada kulit yang terdapat bekas cacar. Biarkan beberapa saat, setelah itu cuci dengan air hangat. Lakukan cara ini secara rutin dan penuh kesabaran. Hasilnya, kulit akan kembali mulus seperti sediakala
b. Bonggol pisang untuk obat dan makanan
Air bonggol pisang kepok dan klutuk juga diketahui dapat dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit disentri, pendarahan usus, obat kumur serta untuk memperbaiki pertumbuhan dan menghitamkan rambut. Sedangkan untuk makanan, bonggol pisang dapat diolah menjadi penganan, seperti urap dan lalapan
c. Batang Pisang yang dijadikan pakan ternak
Batang pisang yang tidak dipakai biasanya langsung dibuang atau untuk menahan laju air tapi selain itu batang pisang juga bisa digunakan untuk pakan ternak karena kandungan yang terkandung di dalam batang pisang dapat meningkatkan gizi pada ternak tersebut sehingga akan meningkatkan kualitas dari ternak tersebut
Recycle
Contoh penanganan limbah pisang dengan cara daur ulang (recycle) ialah
a. Cuka Kulit Pisang
Mula-mula kumpulkan kulit pisang sebanyak 100 kg dan lakukan proses produksi selama 4-5 minggu. Kebutuhan bahan-bahan lain mencakup: 20 kg gula pasir, 120 gr ammonium sulfit (NH4)2S03, 0,5 kg ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) dan 25 liter induk cuka (Acetobacter aceti).
Cara rnembuatnya, kulit pisang dipotong-potong atau dicacah, lalu direbus dengan air sebanyak 150 liter. Saring dengan kain dalam stoples. Berdasarkan uji lapangan, bahan awal kulit pisang yang direbus itu akan menghasilkan cairan kulit pisang kira-kira 135 liter, bagian yang hilang 7,5 kg, dan sisa bahan padat sekitar 112,5 kg. Setelah disaring ke stoples, cairan kulit pisang ini perlu ditambah ammonium sulfit dan gula pasir.
Langkah berikut, didinginkan dan tambahkan ragi roti. Biarkan fermentasi berlangsung satu minggu. Hasilnya disaring lagi. Dari 135 liter cairan kulit pisang setelah difermentasi dan disaring menjadi 130 liter larutan beralkohol, dan lima liter produk yang tidak terpakai. Pada larutan beralkohol itu ditambahkan induk cuka, dan biarkan fermentasi berlangsung selama tiga minggu.
Selanjutnya, hasil fermentasi larutan beralkohol dididihkan. Nah, dalam kondisi masih panas, cuka pisang dimasukkan ke dalam botol plastik. Lalu segera ditutup dan disimpan dalam temperatur kamar. Biasanya pemasaran cuka pisang dikemas dalam plastik berukuran 40 ml, 60 ml, atau 80 ml. Jika dihitung, dari 100 kg kulit pisang akan diperoleh sekitar 120 liter cuka pisang.
b. Nata dari Kulit Pisang
Potensi buah-buahan lokal Nusantara untuk dikembangkan sebagai bahan makanan sudah terbukti. Salah satu buah tersebut yakni pisang. Buah ini selain bisa dimakan saat segar juga bisa dibuat berbagai jenis makanan, seperti ceriping, dan sale.
Sebuah penelitian terhadap buah pisang dilakukan tiga dosen Universitas Negeri Yogyakarta. Sekali lagi untuk menjadikan pisang sebagai produk olahan yang disukai masyarakat dengan tetap memiliki kandungan gizi.
Yang menarik, penelitian yang dilakukan Das Salirawati MSi, Eddy Sulistyowati Apt MS, dan Retno Arianingrum MSi yang semuanya adalah dosen Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam adalah bukan dilakukan pada buahnya, tetapi pada kulitnya. Penelitian ini sukses menjadikan kulit pisang-yang selama ini lebih banyak dibuang-menjadi nata.
Nata adalah serat yang berbentuk seperti gel yang dibuat dengan memanfaatkan kerja bakteri Acetobacter xylinum. “Selama ini masyarakat telah mengenal produk nata de coco atau nata yang dibuat dari air kelapa. Nata dari kulit pisang sebenarnya sama dengan nata de coco, bedanya nata pisang dibuat dari bahan dasar kulit pisang,” katanya, Rabu (8/3).
Ide membuat nata dari kulit pisang, karena terinspirasi dari penelitian sebelumnya yang bisa membuat nata dari buah pisang. “Kenapa kemudian memilih kulit pisang karena selama ini kulit pisang tidak termanfaatkan dan hanya dibuang begitu saja. Padahal kulit pisang ini banyak ditemui di sekitar kita, antara lain di tempat-tempat orang jual gorengan,” ucapnya.
Proses pembuatan nata kulit pisang yang pertama adalah mengerok kulit bagian dalam buah pisang. Hasil kerokan itu kemudian diblender dan dicampur air bersih dengan perbandingan 1 : 2, lalu disaring guna mendapatkan air perasan. Setelah itu ditambahkan asam cuka biasa dengan ukuran 4-5 persen dari volume air perasan. Jika menggunakan asam cuka absolut maka cukup 0,8 persen. Ditambahkan juga pupuk ZA sebanyak 0,8 persen dari larutan, dan gula pasir sebanyak 10 persen. Bahan-bahan tersebut dicampurkan untuk kemudian dipanaskan sampai mendidih.
“Asam cuka dan pupuk ZA berfungsi untuk media hidup bagi bakteri Acetobacter xylinum. Bakteri ini membutuhkan nitrogen dari pupuk ZA dan keasaman dari cuka. Acetobacter xylinum inilah yang nanti akan membentuk nata,” ujar Das.
Setelah mendidih lalu dituangkan dalam cetakan-cetakan. Dengan ketinggian cairan adonan lebih kurang 2-3 cm di setiap cetakan. Setelah dingin, dimasukkan bakteri Acetobacter xylinum-yang bisa dibeli dalam bentuk cairan-sebanyak 10 persen dari campuran. Sebelum memasukkan bakteri, adonan harus benar-benar dingin, sebab kalau masih panas bakteri akan mati. Setelah itu, cetakan ditutup dengan kertas koran. Ini supaya udara tetap bisa masuk melalui pori-pori kertas. Setelah dua minggu, cetakan baru boleh dibuka. Adonan pun akan berubah menjadi berbentuk gel.
Nata lalu diiris-iris, dicuci, dan diperas sampai kering. Untuk selanjutnya direbus lagi dengan air lebih kurang dua kali rebusan. Ini berfungsi untuk menghilangkan aroma asam cuka. Setelah selesai, nata bisa dicampur dengan sirop atau gula sesuai selera. Campuran rasa diperlukan karena nata berasa tawar. Nata dari kulit pisang pun siap disajikan untuk minuman, maupun makanan kecil lain. Diketahui dari 100 gram nata kulit pisang mengandung protein sebanyak 12 mg. Das Salirawati mengungkapkan, penelitian itu akan dilanjutkan untuk mencari ketebalan nata yang paling optimal. Dari percobaan awal, diketahui dari ketebalan cairan adonan dua cm diperoleh nata lebih kurang 1,5 cm. Masyarakat dipersilakan jika ingin mencoba membuat nata dari kulit pisang. “Ini bisa untuk usaha alternatif skala kecil,” tuturnya. (RWN)
c. Roti dari Kulit Pisang
Kulit pisang kerap dibuang begitu saja di sembarang tempat. Jika dibuang sembarangan, kulit pisang bisa membuat orang tergelincir. Namun, tiga mahasiswa Biologi ITS, tak pernah menganggap remeh kulit pisang. Karena setelah diteliti terbukti kulit pisang memang tak bisa dianggap barang remeh.
“Kulit pisang yang sering dianggap barang tak berharga itu, ternyata memiliki kandungan vitamin C, B, kalsium, protein, dan juga lemak yang cukup,” kata Sulfahri, salah satu dari 3 peneliti itu. Melihat kandungannya yang cukup tinggi, ia bersama dua rekan mencoba membuat penganan dari bahan kulit pisang itu.
“Semula, kami hanya memproduksi keripik kulit pisang, namun lama-kelamaan timbul ide untuk membuat tepung dari kulit pisang,” katanya. Mahasiswa angkatan 2007 itu mengatakan tepung pisang itu akhirnya digunakan sebagai bahan baku kue bolu. Meski berkali-kali gagal, namun akhirnya mereka menemukan formula yang pas untuk membuat bolu dari kulit pisang.
“Kalau dihitung lebih dari 50 kali, namun kami sekarang sudah puas dengan resep bolu yang kami miliki,” katanya. Kulit pisang yang cocok dibuat tepung adalah jenis pisang raja, karena kulit pisang raja lebih tebal dibandingkan jenis pisang lainnya.
Karya Sulfahri dan dua rekannya itu merupakan salah satu karya inovatif yang terpilih dalam penyaringan untuk “Biological Opus Fair” yang digelar di Plaza dr Angka ITS Surabaya pada 17 dan 18 April 2008.
Delapan produk inovatif yang dipamerkan adalah karya bertajuk “Pemanfaatan Kulit Buah Pisang Raja (Musa paradisiaca sapientum) sebagai Bahan Dasar Pembuatan Kue Bolu” (karya Sulfahri dari Jurusan Biologi ITS Surabaya), dan “Water Electric Light Trap (WEL-T) sebagai Pengganti Pestisida dalam Upaya Peningatan Produksi Pangan yang Ramah Lingkungan” (karya Resti Afiandinie dari Jurusan Teknik Kimia ITS).
Karya lain adalah “Pendayagunaan Talok (Muntingia calabura Linn) sebagai Salah Satu Sumber Alternatif Baru dalam Dunia Pangan” (Fitri Linda Sari dari Universitas Muhammadiyah Malang), kemudian “Potensi Suweg (Amorphophallus campanulatus Bl.) sebagai Alternatif Bahan Pangan (Upaya Menggali Potensi Pangan Lokal)” (Riana Dyah Suryaningrum dari Universitas Muhammadiyah Malang).
Disamping itu terdapat karya lain, seperti “Konversi Limbah Padat Menjadi Produk Ramah Lingkungan” (Sulistiono Ningsih dari Jurusan Biologi di Universitas Jember), “Pemanfaatan Mikroalga (Fitoplankton) sebagai Subtitusi Sumber Bahan Bakar Premium” (Abdul Azis Jaziri dari Jurusan Perikanan di Universitas Brawijaya Malang), “Diversifikasi Dioscorea Flour sebagai Sumber Alternatif Pangan” (Zainal Arifin dari Jurusan Biologi ITS Surabaya), kemudian “Pemanfaatan buah dan daun cersen/talok sebagai keripik dan dodol” (Ria Hayati dari Jurusan Biologi ITS Surabaya).
Tak berbeda dengan Sulfahri, Zaenal Arifin juga mencoba membuat diversifikasi pangan dari bahan umbi uwi. “Umbi yang bernama latin dioscorea alata itu ternyata dapat menjadi bahan pangan yang aman bagi penderita diabetes. Kadar gula uwi itu rendah, tapi karbohidratnya tinggi,” kata mahasiswa jurusan Biologi ITS itu.
Pengolahan uwi menjadi tepung itu pun tidak memerlukan proses yang rumit, bahkan cukup menggunakan metode tradisional.”Saya buat dari dua macam uwi, uwi putih dan juga uwi ungu yang sama-sama berkadar gula rendah. Uwi diparut kasar, kemudian direndam dengan air kapur untuk memisahkan parutan dengan getahnya. Air getah uwi itu bisa untuk pestisida yang ramah lingkungan,” ucapnya.
Parutan yang sudah dikeringkan, katanya, dapat langsung diolah menjadi tepung. “Tepung dari uwi ini dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai macam penganan, seperti kue dan mie. Rasa tepungnya sendiri tawar, jadi gampang divariasikan,” katanya.
d. Dendeng Jantung Pisang
Tanaman pisang tumbuh baik dan dibudidayakan di seluruh wilayah Indonesia. Jenis pohon mudah ditanam dan hampir setiap rumah di pedesaan memiliki pohon pisang ini.
Setiap petani dapat dipastikan menanam pisang, meskipun di antaranya hanya menanam pisang pada pekarangan.
Tak ada ruginya menanam pohon ini. Apalagi, seluruh bagian dari tanaman pisang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga mulai dari daun, buah, sampai bonggol pohonnya.
Buah dan bagian tanaman pisang pun bisa diolah menjadi berbagai macam jenis makanan olahan. Salah satu makanan olahan dari bagian tanaman pisang adalah dendeng jantung pisang.
Untuk membuat dendeng jantung pisang perlu disiapkan sejumlah bahan, meliputi empat buah jantung pisang, satu sendok makan ketumbar, 50 gr ikan teri, 10 siung bawang merah, dan empat siung bawang putih. Sedangkan kebutuhan peralatan terdiri atas pisau, kukusan, penumbuk, dan tampah.
Cara membuatnya, ambil jantung pisang yang masih segar. Buang kelopak bagian luar hingga tampak kelopak dalamnya berwarna putih kemerah-merahan. Jantung pisang tersebut direbus sampai lunak. Lalu ditumbuk sampai halus.
Selanjutnya, bumbu-bumbu ditumbuk lalu dimasak dalam wajan. Setelah itu, tumbukan jantung pisang dimasukkan ke dalam wajan berisi bumbu. Diaduk-aduk sampai merata, lalu tambahkan gula merah. Jika sudah masak, silakan diangkat dan segera dicetak di atas tampah. Jadilah dendeng jantung pisang yang telah dicetak. Dendeng tersebut dijemur selama 2-3 hari hingga kering. Lantas, digoreng hingga masak, dan akhirnya dikemas dalam kantong plastik.
e. Keripik Bonggol Pisang
Kebutuhan bahan untuk membuat keripik bonggol pisang terdiri atas bonggol pisang, natrium bisulfit, garam, bawang merah, bawang putih, minyak goreng, merica, dan air. Sedangkan piranti yang mesti disiapkan adalah pisau, baskom, wajan, ember, kompor, talenan, dan alat penunjang lainnya.
Cara membuatnya, ambil bonggol pisang, lalu kupas kulit luarnya, dan dicuci dengan air bersih. Bonggol diiris menjadi irisan-irisan tipis sekitar 0,5 cm. Irisan bonggol direndam dalam larutan natrium bisulfit satu persen selama 2-3 menit (Pedomannya: 1 gram natrium bisulfit dicairkan ke dalam 1 liter air). Setelah direndam, irisan bonggol ditiriskan.
Selanjutnya, bumbu-bumbu ditumbuk sampai halus, lalu dimasukkan ke dalam baskom dan tambahkan sedikit air. Rendam irisan bonggol dalam baskom yang berisi bumbu, lalu diaduk sampai rata, dan biarkan sekitar 5-10 menit agar bumbunya meresap.
Irisan bonggol yang telah dibumbui itu digoreng, sambil dibolak-balik hingga kematangan merata. Angkat dan tiriskan. Akhirnya, jadilah keripik bonggol pisang yang dikemas dalam kantong plastik.
f. Batang Pisang Sebagai Bahan Dasar Kertas Daur Ulang
Batang pisang juga dapat di olah menjadi kertas, yaitu setelah mengalami proses pengeringan dan pengolahan lebih lanjut. proses pembuatan kertas dari bahan batang pisang pertama-tama yang harus dilakukan adalah, batang pisang tadi dipotong kecil-kecil dengan ukuran berkisar 25 cm, lalu di jemur di bawah terik matahari hingga kering. Setelah batang pisang tadi kering proses berikutnya adalah dengan cara direbus sampai menjadi lunak, namun pada saat proses perebusan sebaiknya di tambah dengan formalin atau kostik soda maksudnya adalah di samping untuk mempercepat proses pelunaan juga untuk menghilangkan getah-getah yang masih menempel pada batang pisang tadi, pada proses berikutnya batang pisang yang sudah lunak tadi disaring dan dibersihkan dari zat-zat kimia tadi baru kemudian di buat bubur ( pulp) dengan cara di blender. Baru kemudian dicetak menjadi lembaran-lembaran kertas.
Reduce
a. Kulit Pisang Menyimpan Tegangan Listrik
Siapa yang menyangka kulit pisang bisa dijadikan pengganti batu batterai. Cara pembuatannya pertama kulit pisang dan jeruk di buat jus, apabila tidak ada alat jus atau blender maka cukup dihancurkan atau di aduk hingga halus kemudian dicampur dengan air secukupnya. Setelah itu di buat sel elektrokimia dengan mengambil gelas kimia lalu larutan jus tadi ditaruh didalam gelas tersebut. Kemudian dibuat elektroda-elektroda yang terbuat dari Cu dan Zn. Tembaga dan seng disambung dengan kabel kemudian dibantu dengan tutup dari gabus dibuat variasi biar kelihatan menarik.
Satu sel adalah satu wadah atau satu gelas kimia yang berisi 2 elektroda dan 1 tutup. Kita ukur V dan I nya, V= Voltase, I= Amper setelah itu di aplikasikan atau dihubungkan kabel tersebut dengan benda percobaan. Aplikasi yang paling sederhana dan mudah diamati adalah kalkulator dan jam digital, begitu disambungkan ternyata kalkulator dan jam tersebut bisa hidup normal seperti dihubungkan pakai batu batterai
Dibandingkan dengan membeli batu batere, dengan menggunakan limbah kulit pisang sebagai pengganti batu batere akan mengurangi limbah dari pisang selain itu akan meningkatkan nilai jual dari kulit pisang itu sendiri dan akan mengurangi penggunaan batu batere yang kurang ramahh lingkungan
b. Daun pisang sebagai pembungkus makanan
Daun pisang digunakan untuk membungkus makanan karena dengan membungkus makanan dengan menggunakan daun pisang akan menambah cita rasa dalam makanan tersebut contoh bahan makanan yang sering menggunakan daun pisang sebagai pembungkus adalah tempe. Selain itu daun pisang juga oleh masyarakan (sekitar tahun 1945) biasa digunakan untuk membungkus rokok
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan akan mengurangi penggunaan plastic yang tidak ramah lingkungan karena yang sudah kita ketahui bahwa plastic tidak bisa terurai dan akan berdampak pada pemanasan global.
c. Kulit pisang untuk semir sepatu
Bagian dalam dari kulit pisang mengandung potassium yang merupakan bahan penting yang terdapat dalam semir sepatu yang ada di pasaran. Setelah menggunakan kulit pisang untuk menyemir sepatu, bersihkan sisa kulit buah yang mengandung vitamin C, B komplek dan B6 itu dengan menggunakan lap berbahan halus. Kandungan minyak yang terdapat dalam pisang akan melembutkan serta mengawetkan kulit sepatu
Dengan menggunakan kulit pisang kita dapat mengurangi pemakaian semir sepatu yang bahannya tidak alami yang lama kelamaan akan mengurangi kualitas dari sepatu itu dan selain itu dengan mengguanakan kulit pisang kita bisa mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli semir sepatu.
Dengan memanfaatkan limbah pisang sebagai bahan-bahan yang akan meningkatkan nilai tambah dari limbah tersebut maka kita juga akan mengefisienkan biaya dan energy. Contoh dari pengefisienan biaya adalah dengan menggunakan kulit pisang sebagai semir sepatu. Dengan menggunakan kulit pisang sebagai pemnggati dari semir sepatu kita bisa mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli semir sepatu, dengan membeli pisang kita bisa mendapatkan dua keuntungan yaitu buah pisang yang mengandung banyak vitamin dan kulit pisang yang bisa dibuat semir sepatu. Sedangkan contoh untuk pengefisienan energy adalah dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan, dengan menggunakan daun pisang kita bisa menghemat energy yang keluar dari plastic yang sering digunakan karena dengan menggunakan plastic sebagai pembungkus makanan akan mengakibatkan pemanasan global.
Dengan memanfaatkan limbah pisang sebagai produk baru maka akan meningkatkan nilai tambah dari limbah tersebut. Dan akan meningkatkan nilai jual dari limbah yang tadinya tidak berguna jadi berguna.
Dikutip(http://www.facebook.com/pages/AL-GHIFFARI-FOREST-COMMUNITY-INDONESIA/290280401278)
Subscribe to:
Posts (Atom)










